Refleksi Akhir Ramadhan

Bulan Ramadhan baru saja kita lewati, sekarang kita masuk ke bulan Syawal. Begitu berat rasanya kita meninggalkan bulan ramadhan, bulan dimana Allah SWT melipatgandakan amal ibadah kita berkali-kali lipat sementara amal ibadah yang kita kerjakan belum maksimal, qiyamulail yg sering terlewatkan, tasmi Qur’an sampai khatam 30 juz pun belum selesai,  sedekah dan infaq yang jarang sekali kita berikan, sholat2 sunnah pun banyak yg bolong…
Astagfirullah.. Ampuni dosa hambaMu ya Allah.

Kalau di Bulan Ramadhan saja kelakuannya msh seperti ini, apalagi dibulan-bulan lain ? sementara tidak ada kepastian kalo kita akan sampai kepada bulan-bulan kedepannya, atau minggu-mingu kedepannya atau hari-hari kedepannya atau menit-menit kedepannya atau bahkan detik-detik kedepannya. Waallahualam bi showab
Astagfirullah.. Ampuni dosa hambaMu ya Allah.

Apakah kita layak diberikan sertifikat Taqwa kalo begini caranya, jauh sekali dari harapan.

Advertisements

Selamat I’dul Fitri 1430 H

idul-fitri

Minal Aidin Wal Faidzin.

Taqobbalaulahu minna waminkum
Taqobbal ya karim

Air Mata Rasulullah

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
salam. ‘Bolehkah saya masuk?’ tanyanya. Tapi Fatimah tidak
mengizinkannya masuk, ‘Maafkanlah, ayahku sedang demam.’ kata Fatimah
yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali
menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada
Fatimah, ‘Siapakah itu wahai anakku?’ ‘Tak tahulah ayahku, orang
sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,’ tutur Fatimah lembut.

Lalu,
Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
‘Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,’ kata
Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut
datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah
Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh
kekasih Allah dan penghulu dunia ini. ‘Jibril, jelaskan apa hakku nanti
di hadapan Allah?’ Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
‘Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua
syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ‘ kata Jibril. Tapi itu
ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.

‘Engkau tidak senang mendengar khabar ini?’ Tanya
Jibril lagi. ‘Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?’ ‘Jangan
khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad
telah berada di dalamnya,’ kata Jibril.

Detik-detik semakin
dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. ‘Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.’

Perlahan
Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk
semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. ‘Jijikkah kau melihatku,
hingga kau palingkan wajahmu Jibril?’ Tanya Rasulullah pada Malaikat
pengantar wahyu itu. ‘Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal,’ kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. ‘Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada
umatku. ‘Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak
bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan
sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. ‘Uushiikum bis shalati, wa
maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang
lemah di antaramu.’ Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan
Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai
kebiruan. ‘Ummatii, ummatii, ummatiii?’ – ‘Umatku, umatku, umatku’

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.